Heboh, Hantu Kantor Bupati

Diposkan oleh Def - Blog Jumat 0 komentar

Masyarakat Karimun heboh, beberapa hari ini foto penampakan di perkantoran Pemkab Karimun Jalan Canggai Putri, beredar luas dari hape ke hape. Penampakan makhluk gaib ini hanya terlihat samar-samar ketika terekam kamera hape. Gambar ini terekam, Sabtu malam lalu. Ketika itu, beberapa orang PNS di kantor tersebut sedang kerja lembur, untuk membuat laporan yang akan diserahkan pada hari Senin berikutnya.

Ketika sedang asyik lembur di kantor, rupanya tiba-tiba listrik padam. Salah seorang pegawai iseng mengambil foto dengan kamera hape yang dilengkapi blits.

Secara kebetulan, kamera tersebut menangkap bayangan putih dari satu ruangan kantor. Alhasil, hasil jempretan kamera hape tersebut, mulai beredar di masyarakat.

“Kalau malam itu, kami tahu hasil gambar tersebut, malam itu juga kami tinggalkan kantor kami. Sejak saat itu, kami jadi takut untuk kerja malam,” beber pegawai yang mangambil gambar tersebut dan tidak mau identitasnya disebut.

Jika diamati secara seksama, gambar tersebut memang tak memuat ngeri, karena hanya bagian samping wajah saja yang terlihat.






500 Ribu Sekali Onani

Diposkan oleh Def - Blog 0 komentar

Lunas sudah tugas polisi. Tersangka kasus perampokan terhadap Ambar Effendi, PNS di Kelurahan Pulau Buluh, lengkap sudah di ringkus. Setelah berhasil menangkap dua tersangka sebelumnya, Toni dan Awi, Jumat polisi kembali berhasil menjerat Surya Safriandi alias Andi alias Memed, di Bandara Hang Nadim. “Setelah kejadian, tersangka kabur ke Kampar, Riau,” jelas Kasat Reskrim Poltabes Barelang Kompol Himawan Bayu Aji SIK, kemarin di ruangan kerjanya kepada wartawan. Menurut komandan resrse ini, setelah melakukan penyelidikan terhadap Memed, polisi berhasil menyuruhnya untuk menyerahkan diri.

Akibat perbuatannya, penyidik menjerat Memed dengan pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan. Ancaman hukuman yang harus dibayar tersangka maksimal 12 tahun. Menurut Himawan, dari hasil pemeriksaan aksi ketiga pelaku perampokan itu sudah direncanakan sebelumnya, di Rumah Makan Samudra, di kawasan Sagulung, sebelum pergi ke Penginapan Anugrah tempat korban nginap.

Seperti pengakuan kedua tersangka sebelumnya, Memed pun kenal dekat dengan korban. “Saya dikenalkan Awi,” katanya. Diceritakan Memed, sebelumnya ia juga pernah melakukan hubungan seks dengan korban. “Ya bukan yang itu, tapi saya disuruh mengonani korban,” lanjutnya lagi.

Tapi, Memed tidak sekedar melayani tersangka begitu saja. Mantan pekerja galangan kapal ini mengaku juga mendapat imbalan setelah memuaskan korban. “Saya dapat lima ratus ribu,” imbuhnya. Alasan Memed, ia bersedia melakukan itu semua karena sedang butuh uang.

Nah, setelah itu barulah peristiwa sadis itu terjadi. Memed tidak mengakui kalau perampokan tersebut sudah direncanakan sebelumnya. Menurut Memed, pisau yang dibawanya itu atas suruhan Awi. “Awi yang suruh saya bawa dan meletakkan di bawah kasur,” lanjutnya. Singkat cerita, terjadilah penikaman yang dilakukan oleh Toni. “Saya juga tidak tahu ada masalah apa, tiba-tiba Toni nikam,” kata Memed lagi.

Dari pengungkapan ini, penyidik juga berhasil menyita, sepasang seragam PNS yang dikenakan korban. Kotak cincin yang sudah kosong. “Cincinnya dijual Toni di Medan,” aku Memed. Tidak ketinggalan, sebilah pisau kecil dan sarungnnya. Peristiwa itu terjadi selepas tengah malam, Kamis lalu. Berawal dari terdengarnya suara teriakan minta tolong dari lantai II, Hotel Anugerah, oleh seorang warga sekitar. Pekikkan itu membuat kaget Azis Mustofa, warga setempat yang ketika itu sedang berada di luar kawasan ruko itu.

Karena penasaran, Azis segera memberitahu kepada petugas hotel agar mengeceknya. Petugas hotel yang mendapat laporan pun segera menuju lantai II hotel. Ternyata sumber suara itu berasal dari kamar nomor 12. Sontak petugas hotel kaget. Seorang tamu terkapar bersimbah darah. Ada beberapa bekas ditikam di tubuhnya.

Azis lantas memanggil teman-temannya untuk membantu mengevakuasi korban ke rumah sakit. Geger perampokan itu pun memicu kehadiran polisi. Menurut keterangan korban kepada polisi, pelaku mengetuk pintu kamar korban dan pura-pura minta minum.Setelah sempat memasuki kamar korban, pelaku dengan leluasa merampok korban. Hasilnya, korban bersimbah darah setelah empat tikaman bersarang di tubuhnya. Harta korban yang berhasil dirampok, cincin, uang Rp10 juta dan Hape Nokia.




Akhirnya Kolor Ijo Tewas

Diposkan oleh Def - Blog 0 komentar

Seketika, Sutakim menghentikan kayuhan cangkulnya begitu mata cangkul membentur benda keras. Begitu cangkul ditarik dan tanah ambrol, mata warga Wonosari, Kecamatan Meral, Karimun itu seketika terbelalak. Gidik ketakutan seketika meraupi tubuh Sutakim. Senin yang menginjak petang itu, seonggok tulang-tulang manusia beserta tengkoraknya, terhidang di depan Sutakim.

Penemuan tulang belulang yang masih menyisakan kolor berwarna hijau itu, seketika menggegerkan warga Wonosari. Lokasi penemuannya, di sebuah lahan kebun ubi yang terletak di RT 02 RW 09 Wonosari, Meral. Malam itu juga, bersama warga, aparat polisi Polsek Meral menggali lokasi penemuan, mengumpulkan tulang-tulang manusia berkolor hijau.

Semula, Sutakim tak menduga benda keras yang membentur cangkulnya adalah tulang manusia. Bahkan, tulang tungkai manusia yang pertama ia cangkul, sempat ia buang. Namun setelah menggali lagi, ternyata ditemukan potongan lain. Kayakinan itu merupakan tulang manusia menjadi nyata saat menemukan celana dalam warna hijau yang masih utuh.

Orang pertama yang diberitahu Sutakim soal penemuan itu adalah Bonari, rekan kerjanya. Saat itu juga keduanya kemudian mengabarkan pada banyak orang yang kemudian bersama warga, langsung mencari potongan tubuh lainnya.

Penggalian itu mendapatkan temuan berupa sepasang buah tulang tungkai kaki, sepasang tulang tungkai paha, sepasang tulang lengan, dan beberapa tulang rusuk. Warga juga berhasil mengangkat tengkorak kepala yang hanya tersisa seperemaptnya saja. Sebagian tengkorak lainnya sudah pecah. Sementara oragan tubuh Torak tidak berhasil ditemukan.

Usai bertungkus lumus mencari tulang belulang, sekitar pukul 19.30 WIB, warga kemudian melaporkan penemuan tersebut ke aparat Polsek Meral. Beberapa polisi langsung meluncur ke lokasi kejadian.

Selanjutnya polisi kemudian mengamankan potongan tubuh yang tinggal tulang benulang tersebut dan memasang garis polisi di tanah yang tempat ditemukan tulang belulang.

Tulang belulang milik manusia tersebut ditemukan sudah terkubur dengan kedalaman sekitar setengah meter. Hal ini menimbulkan dugaan, pemilik tulang belulang itu merupakan korban pembunuhan yang kemudian dikubur di kebun ubi tempat Sutakim dan Bonari bekerja. Polisi juga tidak menemukan korban dikubur dalam keadaan laik seperti pemakaman. Tulang belulang yang ditemukan hanya bercelana kolor, semakin menguatkan adanya dugaan korban tewas dibunuh dan dikuburkan dengan terburu-buru. Lokasi penemuan pun terbilang terpencil dan tersembunyi. Untuk memasuki lahan kosong yang akan ditanam ubi itu, harus melalui satu jalur setapak.

Kapolsek Meral, Ajun Komisaris Arif Budi mengaku belum berani menyimpulkan apa-apa atas penemuan tulang belulang tersebut. ''Indetitasnya juga belum bisa diketahui, melihat dari temuan tersebut korban sudah terkubur lama di lokasi tersebut, jadi indikasi pembunuhan belum cukup bukti,'' terang Arif singkat.

Dari hasil pemeriksaan di kamar jenazah RSUD Karimun, tim medis menduga jenis kelamin tulang belulang adalah laki-laki. Semasa hidup, kemungkinan korban memiliki tubuh gempal dan besar. Hal itu bisa dilihat dari besarnya tulang, serta ukuran celana yang berdiameter 44 sentimeter. Untuk kaki saja, petugas medis mengukur tingginya mencapai 38 sentimeter. ''Kita masih mempelajari temuan potongan tubuh manusia ini, untuk indetitasnya juga belum diketahui,'' tegas Arif lagi.




Kenekatan itu berlangsung dengan begitu cepat. Di keriuhan wisatawan yang Kamis pagi kemarin memadati badan Jembatan I Barelang, Febriana Simbolon dengan bercucur air mata. Melompati pagar jembatan; meletakkan sebentar tas coklat berisi Alkitab dan sejumlah kosmetik di pinggir jembatan; untuk kemudian meloncat terjun ke lautan.



Ropilwan Siregar, pedagang jagung bakar yang berjualan di lokasi jembatan dari awal mengaku memperhatikan gerak-gerik Febriana yang terlihat dirundung sedih. Dari kejauhan, Ropilwan memperhatikan gelagat aneh yang diperlihatkan warga yang beralamat di Dapur 12, Batuaji itu. "Sambil lari saya teriak-teriak, jangan, jangan, jangan..(bunuh diri)," cerita Ropilwan ketika ditemui siang kemarin di tempatnya berjualan.

Tapi teriakan mencegah wanita paruh baya itu terlambat. Atau tepatnya tak digubris Febriana. Gadis berkulit sawo matang ini tetap dengan kenekatannya. Gjebur... sedetik kemudian, terdenger suara sesuatu yang jatuh ke air terdengar begitu keras. Tubuh wanita berusia 25 tahun itu mendarat di lautan bawah jembatan. Puluhan wisatawan gelagapan. Saling berebut pandang, melihat ke bawah untuk memastikan apa hasil dari kenekatan Febriana. Tak terkecuali Ropilwan yang terus saja berlari dan menjerit ke arah Febriana.

Untuk sesaat, semua berdebar. Ketika tubuh Febriana tertelan air dan tak kelihatan. Sebelum kemudian, beberapa nelayan yang kebetulan melewati bawah jembatan, menghentikan pompong mereka dan segera menolong karyawati PT Amtec, Mukakuning, tersebut.

Suara keras Ropilwan memberi petunjuk nelayan pancung itu untuk segera menyelamatkan wanita itu. Beruntung beberapa saat kemudian, tubuh Febriana berhasil ditemukan. "Langsung dibawa ke tepi terus kami lapor ke Ditpam," kenang Ropilwan.

Sekejap, suara gaduh itu beralih ke Pos Direktorat Pengamanan (Ditpam) Jembatan I Barelang. "Pak ada yang terjun dari Jembatan I. Tolong pak, tolong, tolong...," laporan seorang warga masuk ke telinga Syupri dan Suharman, anggota Ditpam yang ketika itu berjaga itu pos. Bergegas kedua anggota Ditpam itu meluncur menggunakan mobil patroli ke lokasi jatuhnya Febriana. Kedua anggota Ditpam itu kemudian bergegas menolong beberapa nelayan berpancung dan warga yang sebelumnya sudah lebih dulu bertungkus lumus menyelamatkan Febriana. "Mulutnya masih berbusa. Langsung saja kami bawa ke rumah sakit (CMC)," cerita Syupri.

Rekan Syupri, Suherman, menambahkan: "Kondisinya hamil sekitar empat atau lima bulan, dia diselamatkan pertama kali oleh orang pancung yang kebetulan lagi di air."

Sempat diberikan pertolongan pertama, memang. Tapi, kondisi Febriana tetap kritis. Beruntung, nyawa wanita yang baru menikah dan hamil empat bulan itu terselamatkan. "Cairan banyak di bagian paru-paru," ungkap dr Meilga Edward, dokter Cassa Medical Center (CMC) yang merawat Febriana, sambil menunjukkan hasil rontgen. "Tapi, akan kita pastikan lagi apakah memang cairan (air laut) ataukah karena memang ada penyakit (paru-paru). Kondisinya juga masih sesak," tambah Meilga.

Dari pemeriksaan sementara, Febriana juga menderita sakit pada tubuh bagian belakang. "Ada indikasi kejanggalan tulang di bagian belakang pinggang dan seputar punggungnya. Kita masih pastikan lagi melalui dokter penyakit dalam," papar Meilga.

Terus Meronta

Siang kemarin sekitar pukul 11.00 WIB, Febriana masih terbujur lemah di atas brankar RS CMC. Tangan kanannya tertancap jarum infus. Selang dari tabung oksigen membantu pernafasan istri dari Sandro Purba tersebut.

Bibir, tangan dan hampir seluruh tubuh wanita kelahiran 8 Oktober 1984 itu gemetaran. Nafasnya ngos-ngosan. Ibu muda itu terlihat seperti orang yang kedinginan. Kondisi Febriana, belum pulih benar setelah sejam sebelumnya berusaha bunuh diri dengan menerjunkan diri ke laut di jembatan I Barelang.

Meski kondisinya lemah, Febriana masih sadar. Wanita yang belum dikaruniai anak itu masih bisa menjawab pertanyaan dokter dan perawat yang intens merawatnya. Meski hanya sepatah kata dan sering meracau. "Mau mati saja aku. Sesak nafasku," bibir Febriana terus gemetar ketika mengucapkan kalimat, menjawab pertanyaan perawat yang menanyakan di bagian mana sakit yang dirasakannya.

Beberapa kali juga Febriana meronta. Seolah, istri buruh bangunan itu hendak mengulangi usahanya untuk mengakhiri hidup. "Habis dipukuli, cekcok," ucapnya spontan menjawab pertanyaan dokter. "Nggak tahan lagi aku," kembali Febriana meracau.

Pihak polisi, melalui Kepala Poltabes Barelang, Ajun Komisaris Besar Leonidas Braksan, memastikan kenekatan Febriana untuk mengakhiri hidup dengan meloncat Jembatan I Barelang. "Benar, tapi dapat diselamatkan," tegas Leonidas dalam SMS-nya.
Kondisi korban masih hidup, dalam perawatan dokter," terangnya.

Leo mengemukakan, pihaknya telah mengorek kesaksian tiga anggota Ditpam OB yang bertugas di Pos Jembatan I Barelang. Ketiganya adalah Suherman, Dedi Miharja, dan Syupri. "Barang-bukti yang berhasil ditemukan, yakni sebuah tas warna cokelat berisi Alkitab, dompet, KTP, dan kosmetik," urai Leo.

Karena Gaji Suami Kecil?


Dengan wajah pucat pasi, Freddy, kakak ipar Febriana Simbolon, tiba di ruang gawat darurat RS Cassa Medical Centre (CMC), satu jam setelah Febriana sampai di rumahsakit. Pria yang tinggal di Mangsang, Tanjungpiayu itu, mengakui kondisi rumahtangga adik kandungnya Sandro Purba dengan Febriana memang tak harmonis. "Waktu menikah (Desember 2008), keduanya sama-sama setuju. Setelah menikah mulai sering cekcok," ungkap Freddy ketika ditemui di rumahsakit.

Gaji kecil Sandro yang hanya sebagai buruh bangunan, diduga Freddy menjadi faktor utama penyebab terjadinya pertengkaran antara keduanya. "Sering cekcok masalah keuangan," kata Freddy.
Bahkan pada Januari silam, Febriana sempat mengadu pada Freddy keinginnnya bercerai dari Sandro. Tapi biasanya, pertengkaran antara Febriana dengan Sandro, hanya terjadi sesaat. Setelah itu mereka rukun kembali.

Freddy juga tak menyangka jika adik iparnya itu sampai nekad hendak mengakhiri hidupnya dengan terjun dari jembatan I Barelang. Pasalnya, baru sepekan keduanya terlihat rukun-rukun saja. "Baru seminggu kemarin datang ke rumah saya," tambah Freddy.

Ajun Komisaris Bambang Harleyanto, Kepala Polsek Persiapan Sagulung, yang datang langsung ke CMC mengaku masih belum mengetahui penyebab pasti upaya bunuh diri Febriana. "Masih dalam penyidikan. Nanti akan kita panggil suaminya untuk mengetahui penyebabnya," ujarnya.

Tapi, jika dalam pemeriksaan nantinya polisi menemukan bukti-bukti Sandro menjadi penyebab nekadnya Febriana bunuh diri, Sandro akan dijadikan tersangka. "Kalau memang ada unsur kekerasan, kita akan tindak sesuai prosedur. Tapi sekarang masih dalam penyidikan," terang Bambang.




Penebas Leher Polisi, Gila

Diposkan oleh Def - Blog 0 komentar

Salah satu korban pembantaian Mansur S (20) tak lain adalah pamannya sendiri yaitu P Harahap. Akibat perbuatanya Harahap harus dirawat di Kamar 519 di lantai 5 RSUD Karimun. Senin kemarin kondisi Harahap mulai membaik, bahkan ia sudah dapat bercerita tentang kejadian tersebut. Saat ditemui Posmetro, Harahap yang ditanyai tentang kejadian tersebut dengan mudah bercerita. Menurut Harahap kejadian tersebut terjadi lantaran sakit gangguan jiwa yang dialami Mansur yang tak lain adalah ponakan kandungnya tersebut kumat saat itu.

''Dia pernah kumat saat kelas 3 SMA, namun sudah lama sembuh, namun kemarin sakitnya Kumat, bahkan saya rencanya akan membawa dia pulang kembali ke Medan, namun belum jadi dibawa ke Medan, dia sudah melakukan aksi ini,'' ujar Harahap.

Harahap juga meminta kepada pihak Polisi untuk mengamankan Mansur, pasalnya ia cukup berbahaya jika penyakitnya kumat lagi.

Diceritakannya kembali peristiwa miris tersebut, saat itu Harahap sedang di ruang kamar tengah, sementara ibu Munte dan pak Munte sedang berada di dapur.

''Saya sempat melihat Mansur lewat di belakang Pak Munte dan bu Munte dan masuk ke belakang. Kemudian ternyata dia kebelakang, saat itulah dia mengambil golok, saat itu saya tak tahu dan saya masuk ke kamar lagi, beberapa saat kemudian saya dengar teriakan ibu Munte, saat saya keluar, Ibu Munte terus merangkul Mansur, sementara Pak Munte sudah terjatuh dengan berlumuran darah, sesaat itu ibu Munte pun dibacok dia hingga tumbang,'' ujar Harahap yang masih terlihat selang Impus di lengan kanannya.

Saat itu juga Harahap mencoba membuat Mansur tengan dan memujuknya untuk melepaskan parang di tangannya. Namun apa daya Harahap justru menjadi target ketiga oleh Mansur.

'"Saya justru dikejar dia, hingga dua kali saya terjatuh, dan dua kali itu pula dia membacok saya, namun saya kembali bangkit dan kabur namun tak dapat dihindari saya terus lari hingga melihat rumah warga terbuka, maksud saya masuk dan mengunci pintu kamar itu, ternyata langkah saya kalah dengan langkah Mansur, saat itu juga dia langsung membacok saya kembali di dalam kamar hingga saya tak berdaya lagi,'' ujar Harahap lagi.

Sementara di kamar terpisah, terlihat istri Munte, Indrawati kondisinya sudah mulai membaik. Bahkan sudah dapat berbicara. Namun ia masih enggan menceritakan kejadian yang dialaminya.
Sedangkan Sumainya yang lebih dikenal dengan sebutan Munte sendiri masih belum sadarkan diri dan masih dirawat di ruang ICU RSUD Karimun lantai 2.

Sementara rencanya pihak jajaran Polres Karimun dalam hal ini akan membawa tersangka Mansur untuk melakukan tes kejiawaan. Namun kapan belum ada konfirmasi resmi dari pihak kepolisian.




Uang tebusan minta dikirim ke korban penculikan. Dua SMS yang masuk ke hape Nurzal Chan itu membuat lelaki itu diselimuti kepanikan luar biasa. SMS pertama masuk ke hape pegawai ATB itu, Senin sekitar pukul 11 malam. Isinya, sang ananda, Fildzatika (16) diculik dan penculiknya minta tebusan Rp80 juta.

Semalam itu, Nurzal dan keluarganya nyaris tidak bisa tidur. Kepanikan lelaki berusia 44 tahun itu kian menggunung, ketika hapenya pada pagi kemarin sekitar pukul lima menerima SMS kembali dari si penculik. Isi SMS kedua, penculik bertanya apakah uang tebusan sudah dikirim.

Faldzatika adalah siswa Sekolah MHS, Batuampar. Belum hilang kebingungan dan kepanikan kedua orangtuanya, Selasa kemarin gadis berjilbab ini sudah nongol kembali ke rumah. Anak pertamanya dari tiga bersaudara itu sudah kembali pulang, sekitar pukul 07.00 WIB. "Dia berhasil kabur dari para penculiknya," kata bibi Fildzatika, Anin, saat ditemui di kediaman Nurzal Chan di Perumahan Plamo Garden kemarin.

Anin, mengutip kisah Fildzatika mengungkapkan, Senin sore saat pelajar kelas satu itu pulang sekolah di Batuampar. Menumpang metrotrans, Fildzatika kemudian pulang ke rumahnya di Plamo Garden, Batamcenter.

Sesampainya di depan komplek perumahan, siswi berjilbab itu lantas turun dari metrotrans yang ditumpanginya. Tapi, belum juga langkahnya jauh ke dalam komplek, tiga lelaki langsung menyergapnya dan memasukkan dalam sebuah mobil Carry warna biru berlis kuning. "Tiga orang pake topeng," tambah Anin. Anin meneruskan, oleh ketiga penculik, mata keponakannya kemudian ditutup kain ."Tapi (Fildzatika) sempat telepon ayahnya, teriak bilang tangannya ditarik," tambah wanita berjilbab itu.

Jeritan telepon Fildzatika terdengar janggal di telinga Nurzal Chan. Bergegas, pegawai ATB itu menelepon balik. Tapi, sayang hape korban sudah tak bisa dihubungi balik. Sejak saat itulah keluarga mulai dibalut gelisah.

Anin meneruskan kutipan ceritanya, dengan mata tertutup, Fildzatika semula mengaku tak tahu dilarikan ke mana. Tapi, si gadis mengaku sempat diturunkan sejenak di Jembatan I Barelang. "Waktu diturunkan di Jembatan I, matanya dibuka. Makanya dia tahu kalau itu Jembatan I," beber Anin lagi.

Sayang, tak lama korban di jembatan itu. Setelah itu korban dibawa lagi ke sebuah tempat. "Dia ingatnya itu pantai. Katanya Batam (Patam) Lestari," Anin menirukan cerita anak dari Nurzal, abangnya itu. Patam Lestari adalah sebuah pantai di daerah Sekupang. "Baru terakhir katanya dia dibawa ke sebuah ruko kosong banyak suara burung walet gitu, katanya," tambah Anin.

Sementara Fildzatika diajak berputar-putar oleh penculik, di rumahnya, kedua orangtuanya bingung mendapati sang anak tidak pulang hingga larut malam. Nurzal berusaha mencari jejak sang anak dengan mengontak kawan dan kerabat. Tapi tak juga menemukan hasil.

Khawatir dengan keselamatan buah hatinya, malam itu Nurzal mendatangi polisi untuk melaporkan bahwa anaknya belum pulang. Dan, kekhawatiran Nurzal bertambah manakala datang SMS minta tebusan. Anehnya, Anin mengatakan dalam SMS penculik, tebusan itu minta dikirimkan ke nomor rekening sang anak.

Hingga malam hari tak ada kabar lagi. Baru sekitar pukul 05.00 dinihari, SMS kembali diterima ayah korban. SMS itu berisi tentang tindaklanjut tuntutan uang tebusan itu. "SMS itu terakhit kalinya," ungkap wanita itu lagi.

Beruntung, korban lekas pulang. Belum detail Fildzatika bercerita ikhwal penculikan dirinya, polisi sudah datang. Korban dibawa polisi. Penyidikan segera dilakukan. Berhasil, memang. Baru beberapa jam polisi berhasil menangkap tersangka penculikan itu.

Sekitar dua jam lebih, korban dimintai keterangan di ruang Komiasris Christian Tory, Kepala Satuan Reskrim Poltabes. Wartawan sudah menunggu hasil pemeriksaan itu. Tapi wartawan harus gigit jari ketika korban menyelinap kabur melalui pintu belakang. Meski terbilang sukses, sikap Christian terbilang aneh. "Inisial AN, umurnya 16 tahun," ini kalimat singkat Christian saat dikonfirmasi.

Christian juga membantah bahwa kasus Fildazatika adalah penculikan. "Bukan penculikan ini," ucap Kasat. "Ada minta tebusan atau apalah, nggak ada itu," bantah Christian lagi.

Pura-pura Tidur, Tika kabur

Rumah itu nampak sunyi. Hanya beberapa kerabat yang terlihat keluar masuk ke dalam rumah di Blok E3, Perumahan Plamo Garden. Ya, tapi siapa sangka pemilik rumah itu, Nurzal, baru saja mengalami peristiwa yang sempat membuat seisi rumah tidak bisa tidur karena khawatir. Ya, anak sulung Nurzal Chan, Fildatika, baru saja lolos dari penculikan.
Anin, bibi korban menceritakan dalam kesehariannya Tika jarang telat pulang dari sekolah. "Kalau pulang terlambat pasti dia telpon atau SMS," tegas Anin.

Untungnya, pagi kemarin, Filda tiba-tiba pulang. Dalam keadaan masih terguncang dia menceritakan bagaimana dia bisa sampai kembali kerumahnya. "Dia (Tika) pura-pura tertidur. sewaktu dilihatnya mereka masih terlelap, Tika berhasil meloloskan diri," ungkap Anin.
Tika mengaku, selama dalam penyekapan tidak ada seorang penculikpun yang melukainya. Ia juga tak diberi makan. Tika juga mengaku selama perjalanan matanya ditutupi dengan kain yang diikatkan di kepalanya.




UFO di Tanjung Uma

Diposkan oleh Def - Blog 0 komentar


Sesuatu mirip piringan dan terbang mengundang perhatian para siswa SMP yang sedang asik bermain bola, Selasa sore. Piringan yang mengeluarkan cahaya kuning itu disaksikan hampir semua anak-anak SMP yang sedang bermain bola saat itu. Sudah beberapa menit Dava, Aris, Riyan, Hendra dan beberapa teman siswa SMP Hang Kasturi, Tanjunguma, lainnya bermain sepak bola bersama teman-temannya di lapangan bola yang berada tepat di bawah SMP itu. Tapi sekitar pukul 17.30 sore, mendadak Dava, salah satu pemain bola, berteriak. "Hai lihat apaan tuh...," cerita Aris, menirukan teriakan Dava saat itu hingga menghentikan gerakan pemain lain.

Semua mata, Aris, Riyan, Hendra, Eka dan teman lainnya tertuju menyaksikan benda asing terbang itu mengikuti petunjuk jari Dava yang mengarah ke benda aneh itu. Beberapa menit mereka seksama melototi piringan kuning yang terus laju terbangnya itu. "Pertama saya kira layang-layang. Tapi kok ada cahayanya terang kali," kenang Riyan saat bincang-bincang di Kampung Tanjunguma. "Yang bilang itu UFO, ya Dava lah," katanya.

Meski penasaran dengan benda mirip piringan dan berwarna kuning itu, anak-anak itu kembali mengacuhkannya. Mereka memilih asik bermain bola lagi. "Kalau yang liatin terus. Ada sekitar lima menitanlah," kata Aris. "Dia (benda aneh) itu terbang kencang dari arah sana (utara) ke (selatan)," timpalnya.

Aris dan teman-temannya mengaku menyesal tak bisa mengabadikan benda aneh menyerupai gambar-gambar yang kerap dianggap UFO itu. "Tak hape. Kalau ada hape pasti kami jepretlah," kata-kata Aris, diamini teman-temannya.

Benda aneh itu disaksikan anak-anak SMP, memang. Tapi percaya tidak percaya, tergantung anda menyikapinya.






Blogumulus by Roy Tanck and Amanda FazaniInstalled by CahayaBiru.com

Label Category

Followers

About Me